Monday, October 5, 2026

Mencapai garis akhir

Alhamdulillah, setelah bekerja maraton selama 3 tahun 9 bulan, akhirnya saya berhasil merampungkan studi doktoral.

Dulu saya berpikir bahwa mahasiswa PhD adalah dewa-dewa ilmu pengetahuan yang pintar luar biasa. Mungkin mirip pahlawan super versi akademik. Sangat keren dan mentereng dengan kadar keilmuan yang paling tinggi. Tapi ternyata saya keliru. Untuk bisa terus maju dan bertahan mengerjakan hal yang itu-itu saja, kecerdasan semata akan terkubur dalam sekejap. Yang lebih diperlukan adalah ketekunan, ketabahan, dan disiplin diri yang tinggi. 

Tidak ada yang lebih paham yang dikerjakan selain diri sendiri. Dosen pembimbing selalu memberikan kebebasan berpikir dan tidak pernah kasih deadline. Semua tetek bengek riset dilakukan sendirian, dalam sepi. Kasarnya suka-suka kitalah, baik dalam hal metode pengerjaan, timeline, maupun analisis. Mau tiap hari ke kampus boleh, ga pernah ke kampus sama sekali juga silakan. Namun tentu saja semua risiko ditanggung sendiri.




Alhasil saya selalu terjerumus ke dalam lubang cognitive distortion, atau bahasa mudahnya nyalah-nyalahin diri sendiri dan berpikir bahwa semua yang sudah dikerjakan salah dan akan berakhir dengan kegagalan. Overthinking jadi makanan sehari-hari. Untungnya kemampuan time management saya bisa dibilang excellent, meski ini beberapa kali jadi bumerang karena bikin timeline yang terlampau ketat dan tidak punya mekanisme memaafkan saat target itu tidak tercapai. Hasilnya? Ya langganan nangis-nangis di depan suami, dosen pembimbing, student advisor, student care, dan konselor. Malu ga? Pilihannya adalah malu atau depresi.





Maka saya sadar bahwa studi doktoral ini bisa mencapai garis akhir karena dukungan dari banyak sekali pihak. Pemberi beasiswa, suami, anak-anak, orang tua, dosen pembimbing, bestie, dan seluruh perangkat kampus turut berperan untuk menjaga kewarasan seorang calon doktor dan mempertahankan moodnya untuk terus membaca-menulis-menganalisis, repeat. 

Selain mereka, yang patut diberikan penghargaan tertinggi adalah diri sendiri, karena pada akhirnya dia itu yang bertahan, bertumbuh, berani mengakui kesalahan, dan memaafkan segala ketidaksempurnaan. Dialah yang merasakan kurang tidur, luka batin, sakit fisik, sedih, lelah, dan khawatir.

Tepat satu minggu lalu saya lulus sidang tertutup dengan revisi minor hanya memperbaiki tiga kalimat dan beberapa typo. Hari ini dosen pembimbing menyetujui semua revisi yang telah saya kerjakan. Di balik itu ada anak-anak dan suami yang terabaikan, mental yang senantiasa gamang, kunjungan ke dokter umum dan psikolog, tangan yang pernah dibebat, dan airmata yang tumpah demi mengerjakan riset doktoral yang tidak akan pernah sempurna.  

Terima kasih atas pengalaman berharga menjalani studi doktoral. Alhamdulillah, akhirnya bab ini dapat ditutup. Semoga semua ilmu dari sepenggal babak kehidupan ini berkah dan bermanfaat.

-the wife-


No comments:

Post a Comment