Thursday, October 29, 2020

First trip during the pandemic: heading to the beach!

Sejak maret kami tidak pernah mengajak anak2 jalan2. Bahkan saat liburan semester dan lebaran pun kami tetap di rumah saja mengikuti anjuran pemerintah. Surprisingly, anak2 tidak pernah mengeluh bosan. Mereka juga selalu tertib mengerjakan tugas sekolah. Ini berlainan dengan cerita ibu2 lain yg mulai kerepotan karena anak2nya jenuh dan mulai bertingkah, sehingga menambah beban ibunya. 

Namun suatu hari, Betari tampak mellow. Setelah dicari tau, ternyata dia kepengen nginep di hotel. Aduh duuh kasian bgt deh. Jadi, sebagai pelipur lara dan reward untuk anak2, saat long wiken kali ini kami ajak mereka ke Anyer. Kebetulan kami baru dapat rejeki, yaitu satu unit tanah "jatah" Bapak dari kantor sukses terjual. Alhamdulillah... mungkin memang ini rejekinya anak2 juga. Protokol kesehatan tetap akan dijaga. Utk perjalanan ini, si ibu nyiapin banyak masker sekali pakai untuk anak2 (jd klo habis pergi bisa langsung dibuang), face shield, dan semprotan disinfektan. 

Kami menginap di Novus Jiva, salah satu hotel di Anyer yang paling baru. Kalau lihat di websitenya sih keren sekali ya hotelnya. Karena berlima, maka dicarilah kamar yg cukup besar. Akhirnya kami booking yg tipe terace suite. Dikatakan luas kamar adalah 80m2. Waaaah...itu sih kyk luas apartemen kami di Saigon dulu. Wkwkwkwkw... Tapi tetap aja kami berencana pesan extrabed krn ga mungkin semua anggota leluarga numplek jd satu di satu kasur.
Hari rabu pagi kami berangkat agar sampai di Anyer tepat di jam makan siang. Dalam perjalanan menuju hotel, kami mampir di Pondok Ikan Bakar BM. Masakannya memang top markotop. Ikan bakar rica2nya puedeess mantep. Entah mengapa meski pedes tp rasanya nagih bgt. Hahahaha. Cumi goreng tepung dan udang bakarnya pun enak bgt. Di sini ada insiden, dimana Mas Dewa aduhaaaii susah bgt makan. Alhasil ketika semua sudah selesai makan, termasuk Betari yg makan sendiri, hanya dia yang piringnya masih penuh. Ibunya murka krn kebiasaan makan dengan lambat di rumah dibawa ketika jalan2 begini 😡 Lebih nyebelin lg, krn kelamaan ngunyah tp ga ditelan2, akhirnya dia malah muntah. Duhh....blm juga hepi2 Braaaw, udah bikin kesel aja...😖😖
Sampai hotel sekitar pukul 1 siang. Waaaww lobi penuh mantaaab 😱😱 Tp krn lobinya semi outdoor serta nyambung dengan ruang duduk mirip2 balkon dan restoran, jd keramaian itu menyebar. Kami tetap merasa leluasa. Protokol kesehatan tetap ada. Sebelum masuk lobi wajib cek suhu tubuh dan tangan disemprot hand sanitizer. Anak2 pun dapat tempat duduk selama nunggu orang tuanya check-in.
Kamar yang berukuran 80m2 itu terbagi dua antara kamar plus kamar mandi dan teras dengan bathtub. Antara kamar mandi dengan kamar ada jendela yg dapat dibuka tutup. Ini penampakan aslinya.
Teras kami menghadap ke laut. Lucu juga ada bathtub di teras. Apalagi dilengkapi air panas. Waah, mengundang bgt utk nyebur. Karena siang sampai sore itu hujan terus menerus, maka anak2 ga bisa berenang di kolam renang. Mereka akhirnya main air dengan riang di bathtub.
Malamnya karena mager kemana2, dan gofood terdekat pun jaraknya 15km, akhirnya kami makan malam pop mie saja di kamar. Memang sengaja bawa pop mie dan roti banyak2 utk keperluan darurat begini. Hehehehehe.. 

Keesokan harinya, setelah subuh, ibunya anak2 mendapat berita duka cita. Salah seorang sahabat di kampus meninggal dunia setelah sakit selama 10 bulan. Sempet tangis2an lewat telpon sama sahabat yg lain. Seandainya ada di Jakarta, pasti akan melayat ke Cimahi, tempat almarhum berada. Setiap mengingat itu, hati ini seperti diganjal batu. Sedih dan sesak😭😭😭 

Namun gw ga boleh egois, tetap hrs hepi demi anak2. Sekitar jam 6 pagi, kami pergi ke pantai. Novus Jiva ini letaknya di bukit, bukan di tepi pantai. Tetapi dalam jarak dekat ada beberapa pantai untuk umum. Awalnya mau ke Carita, tp krn kejauhan akhirnya kami ke pantai yg berdekatan aja sama hotel. Lumayan juga koq. Pantainya berpasir putih, cukup bersih, dan sepi. Ada saung2 dan tukang utk menyewa seluncuran dan ban. Kami sewa keduanya. Krn ini pantai terbuka, tentu banyak pedagang yg masuk. Kami manfaatkan itu utk beli sarapan (di hotel kami pilih kamar tanpa sarapan) dan beli snack. Lumayan, bisa sarapan nasi uduk dan dapat otak2 ikan. Pagi itu cuacanya cerah dan hangat tanpa angin. Ombak juga kecil2 aja, jdnya aman utk anak2 bermain. Inilah keseruan kami selama di pantai.
Seperti biasa kalau udah ketemu air, anak2 susah disuruh udahan. Setelah dipaksa baru mau sarapan. Habis itu ya main air lagi. Mungkin jam setengah 9 atau jam 9 baru benar2 selesai. Krn pantai biasa gitu, jd fasilitas terbatas bgt. Tempat basuhnya pun ala kadarnya. Ya udahlah gapapa, yg penting buat ngilangin pasir aja. 

Sesampainya di hotel, Mas Dewa dan Betari msh lanjut berendam air hangat di bathtub. Setelah itu anak2 main henpon selama 1 jam dan kami semua tidur karena kecapean. 

Pukul 1 kami terbangun dalam keadaan lapar 😅🤣 Langsung deh cuss ke resto padang yg terdekat dengan hotel. Dimanapun dan kapanpun masakan padang ga pernah failed deh. Kami juga sekalian mbungkus utk makan malam krn pastinya nanti mager utk keluar2 lagi. 

Sampai di hotel, kami cuma masuk kamar utk ganti baju renang. Cuaca lg bagus bgt, sayang klo ga dipakai berenang. Apalagi kemarin sore gagal berenang di kolam renang hotel. Semuanya semangat deh main air lagi.
Anak2 baru mau udahan setelah Mas Dewa menggigil sampai badannya biru. Jd di kamar langsung mandi air hangat dan selimutan sambil main henpon. Yg bikin gw sebel adalah kamar kami belum juga dibersihkan. Pdhl sebelum jalan utk makan siang udah ngomong ke housekeeping dan resepsionis 😒 Jd sore itu nelp lg ke housekeeping. Bukan apa2, namanya habis main di pantai pasti lantai kamar kotor dan penuh pasir. Jd ilfil setelah cape seharian trus lihat kamar msh kotor begitu. 

Akhirnya sekitar jam 4 datanglah petugas housekeeping utk membersihkan kamar kami. Beruntung ada teras dengan kursi lebar, jd selama kamar dibersihkan, kami ngemil roti di teras. 

Malam berlalu dengan cepat. Seperti biasa, Mas Dewa sulit disuruh makan. Akhirnya disuapi ibunya baru deh mau makan. Itupun kyknya udah hampir mau dimuntahin lg seperti tempo hari 😒🙄 Tp alhamdulillah makanannya habis. Dia sempat ngemil kitkat jg. 

Tetapi paginyaaaa...eng ing eeeeng. Rencana ke pantai Carita hampir batal krn si juragan itu mengeluh perutnya sakit saat sarapan pop mie. Mas Rama dan Betari udah sebel aja deh tuh sama dia. Akhirnya berhenti makan mie dan diganti makan malkist yg lbh mild ditambah air putih hangat. Habis itu Dewa kelihatan mendingan. Jd diputuskan tetap jadi ke pantai. Nanti Ibu dan Dewa di saung aja, ga usah ikutan main air. Tapi setelah ibunya ganti baju, Dewa malah meringkuk di kasur dengan badan yg mulai menghangat. Wadduuww...fixed batal ikut. 

Agar ga mengecewakan yg lain, Bapak tetap ngajak Mas Rama dan Betari ke pantai. Ibunya jagain anak yg sakit aja deh. Kejadian ini sama persis seperti yg kami alami saat ke pantai terakhir kali, 3 thn yg lalu. Di hari terakhir trip kami, Dewa juga ngedrop gitu. Permasalahannya selalu yg itu2 juga, semangat main air tp ga dibarengi semangat makan. Ini nih anak yg meringkuk saat saudara2nya main ke pantai.
Cuaca hr itu juga ga terlalu bersahabat. Sekitar jam 9.30, tiba2 ada angin besar dan mulai gerimis. Ibu langsung panik nelponin Bapak. Alhamdulillah mereka sudah dalam perjalanan pulang. Ga ada foto selama di Carita krn henpon disimpan di mobil. Sayangnya Ibu ga bs ikut, krn klo ada Ibu ada kbh banyak aktivitas yg bisa dilakukan Bapak dan Mas Rama, salah satunya banana boat. 

Dewa juga badannya udah ga anget lagi. Supaya seger jd disuruh ibunya berendem air hangat di bathtub.
Begitulah akhir dari trip kami kali ini. Setelah checkout, kami mampir ke Pondok Ikan Bakar lg utk makan siang sebelum kembali ke Jakarta. Terima kasih ya Allah atas rejeki dan kesehatan yang selalu dilimpahkan kepada keluarga kami 🤲🙏 

 -the wife-

Friday, May 8, 2020

COVID 19 - Stay at Home


Sudah dua bulan ini kegiatan kami berbeda dari biasanya - anak2 sekolah dari rumah, ibu mengajar dari rumah, dan bapakpun sebagian besar kerja dari rumah. Ga ada jalan2 ke mal, RPTRA, warung bakso, atau toko buku. Ini semua bersumber dari virus corona yang sedang menghantui dunia karena sangat mudah menular dan cukup mematikan. Oleh karena itu, semua instansi sekolah sd perguruan tinggi ditutup, dan kegiatan belajar mengajar dipindah ke rumah masing2. Kami pun dihimbau (dan belakangan dipaksa, melalui peraturan mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk tetap tinggal di rumah, kecuali untuk sesuatu yg urgent. Dengan demikian, sebagian besar kantor juga menetapkan kebijakan work from home. Sudah berminggu2 ini pula bapak dan boys tidak sholat jumat karena rumah ibadah diminta utk ga menyelenggarakan kegiatan yg mengumpulkan orng dalam jumlah banyak utk memutus rantai penyebaran virus digdaya ini.

Di masa ini, kami jadi familiar dengan aplikasi virtual conference macam Zoom, Ms Teams, dan Google Meet. Juga ngerekam suara dengan PPT. Untuk pertama kali, platform pemelajaran jarak jauh UI - EMAS - jadi primadona karena kuliah dan ujian harus tetap jalan secara online. Jangan ditanya keribetannya. Di minggu2 pertama rasanya sutrisno berat. Tp the show must go on. Lama2 ya pasrah aja gitu. Yang patut disyukuri, anak2 tetap enjoy dan bahagia.


Peraturan berubah dalam hitungan hari. Oleh karena itu di awal masa2 social distancing, kami mulai stok bahan pangan seperti beras, mie instan, susu, minyak, dan gula. Gas pun kami beli satu tabung lg sebagai cadangan. Selain itu, dengan segala ketidakpastian (apakah akan ada tukang sayur? Tukang daging?), maka si ibuk juga memenuhi freezer dengan lauk2 matang dan frozen food cemilan anak2. Abon istimewa diimpor dari Wonosobo sebagai sumber protein instan. Alhamdulillah sampai hari ini semua bahan pangan tetap mudah didapat. Tukang sayur tetap jualan dengan sayur mayur, buah2an, daging, ayam potong, dan ikan segar.

Kami sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan puasa kali ini sungguh istimewa - ga ada bazar Ramadhan yang menceriakan dan sholat taraweh berjamaah di mesjid. Si mpok pun kami putuskan untuk libur dulu hingga lebaran. Semua kami lakukan di rumah secara mandiri. Untuk bersih2 rumah, ibu dibantu anak2 dan bapang. Tugas Mas Rama adalah masukin cucian ke mesin cuci dan menjemur, adik2 angkat jemuran dan kasih makan kucing, sementara bapak menyapu halaman dan cuci piring. Ga ada setrika2 dulu yaaa selama Mpok ga ada. Pakaian yg udah kering cuma dilipat aja. Hehehehe. Selama bulan Ramadhan ini pun ibu bikin peraturan segambreng dengan reward kupon main HP. Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa anak2 selalu membereskan tempat tidur dan ga absen merapikan mainan.


Alhamdulillah, dengan persediaan lauk matang di freezer maka gw ga perlu masak setiap hari. Secara berkala juga kami pesan makanan via gofood untuk meringankan pekerjaan dan membantu mensejahterakan abang ojol dan warung makan/restauran. Yg rutin disiapkan sebelum buka puasa paling2 cuma minuman dan snack berbuka puasa. Tp ini sih ga terlalu repot krn biasanya cm perlu goreng2 aja. Dengan demikian, setiap waktu berbuka kami selalu bersyukur bisa tetap makan segala kesukaan kami. Perasaan syukur ini memang selalu gw ingatkan kepada anak2. Kami sungguh beruntung krn msh bs makan enak sementara banyak di luar sana yg makan aja susah akibat pandemi Corona ini. Maka di tiap waktu berbuka puasa, anak2 akan mengucap syukur kepada Allah. Selain itu, mereka pun berinisiatif mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya yg sudah menyediakan makanan. So sweet kan :)


Karena ga boleh sholat tarawih di mesjid, maka kami sholat berjamaah di rumah. Kondisi ga boleh kemana2 ini ternyata juga menyimpan blessing in disguise. Ibadah ramadhan kami dapat lebih banyak dan rutin krn ga rempong dengan jadwal bukber atau belanja2 utk persiapan lebaran. So far, di hari ke 16 ramadhan, tarawih yg 'bolong' baru 2 kali. Anak2 semangat tarawih meski mintanya baca surah yg pendek2. Wkwkwkwkwkw. Oh iyaaa, Betari mulai belajar puasa di bulan ramadhan tahun ini. Seperti mas2nya dulu, Betari puasa sampai dzuhur, buka selama 1 jam, lalu lanjut puasa lagi sampai magrib. Alhamdulillah ga ada drama. Kadang sih dia menggumam sendiri bahwa dia bosan dan lapar sementara dzuhur masih lama. Hahahaha. Bahkan yg menyedihkan adalah dia pernah sengaja memaksa diri utk tidur saat nunggu dzuhur karena kelaparan. Duuuh kesiaaan... Tp Betari anak baik, dia ga pernah merengek2 minta buka puasa sebelum waktunya.


Begitulah update si ibu di masa pandemi ini. Sungguh, kejadian langka ini begitu berdampak pada kehidupan kami. Di awal tahun semua masih terasa normal, bahkan kami sempat jalan2 ke Malaysia dengan rasa aman dan nyaman. Ga nyangka bbrp bulan kemudian kondisi akan sama sekali berbeda. Jangankan jalan2 utk rekreasi, sekedar belanja bulanan aja perlu persiapan dan rasanya parno berat. Masker dan hand sanitizer adalah item yg wajib dipakai hari2 ini. Semoga semua cepat kembali normal. Amiiin...

-the wife-

Tuesday, January 21, 2020

We're off to Johor & KL (final)

Ga terasa liburan 8 hari 7 malam kami akhirnya berakhir jg. Saking ga niat dan ga sempetnya mikirin oleh2, gw dan mas baru beli di pagi hari sebelum kami pulang. Hasil penelusuran si Bapang, Giant di Sungei Wang Plaza sudah buka sejak pukul 8 pagi. Maka kesitulah tujuan kami setelah sarapan nasi lemak plus teh tarik hangat di tempat yang sama seperti hari sebelumnya. Giant di sini ga terlalu besar, jd belanjanya pun ga napsu2 amat2. Ga kyk pas di Mustofa dulu. Kami ambil oleh2 seadanya aja.

Begitu sampai di apartemen, anak2 diajak bapaknya utk renang di lantai paling atas gedung apartemen. Gw ga ikutan krn hrs packing2. Jd ga ada foto sama sekali. Wkwkwkwkwkwkw. Ketauan ya ibunya yg selalu jd juru foto. Habis itu mandi dan check out deh. Kami ke KLIA naik grab yg 6 seater krn bawaan yg segambreng.

Ketika kami sampai di KLIA, loket check-in KLM blm buka. Ya udah nyoba check-in sendiri di Kiosk yang banyak disediakan. Eng ing eeeeeeng...ada surprise lagi dooong. Ternyata tiket kami adalah yg tipe non bagasi. Kalau mau beli bagasi biayanya 185 ringgit per satu buah koper dengan berat maksimal 23kg. Lhaaaa kan KLM full service flight. Koq bisaaa? Langsung gw kontak Teguh selaku orng yg bookingin gw tiket itu. Dia jg aviation geek bgt, jd pasti paham lah gini2. Eh dia pun kaget. Katanya KLM biasanya akan ksh bagasi 23kg per orang. Dia dan gw pun ceki2 di apps tiket.com tempat kami booking tiket itu. Ga ada sama sekali pilihan utk beli bagasi ataupun notif bahwa tipe tiketnya yg non bagasi. Si bapang ngecek langsung dr website KLM dan menemukan bahwa skrng KLM punya beberapa tipe tiket. Tipe light disebutkan memang ga ada bagasinya. Setelah masukin kode booking kami di website itu baru ketauan deh bahwa bookingan kami adalah utk yg tipe light. Beteeee bgt. Yowis mau ga mau hrs beli bagasi. Kami check-in di counter dengan masukin 1 koper yg paling besar. Awalnya berat koper ini 25kg, namun berhasil kami kurangi jadi 23kg. Biayanya 184 ringgit dan kami bayar pakai kartu kredit krn uang tunai kami yg tersisa ga sampai segitu banyaknya. Gw sempet mengeluhkan bahwa di apps tempat kami booking ga ada info sama sekali tentang tipe tiket tanpa bagasi ini. Tapi sepertinya petugas2 itu ga terlalu peduli *sigh...

Ada satu koper lagi dan satu travelling bag yg awalnya mau kami masukin bagasi jg (kalau memang ada allowance-nya). Namun dengan bayar2 ini akhirnya mo kami masukin kabin ajah. Petugas counternya menawarkan agar kami masukin dua item itu dalam bagasi supaya kabinnya ga terlalu penuh. Katanya kalau beratnya di bawah 12kg maka free of charge. Setelah ditimbang, koper dan travelling bag itu masing2 ga sampai 12kg. Akhirnya semua bs ikut dibagasikan tanpa tambahan biaya.

Selesai urusan di imigrasi, kami makan siang di Burger King dan sholat. Waktu cepat bgt berlalu, tiba2 kami udah harus masuk gate ajah. Semua dilalui tanpa ada insiden apa2. Yg agak aneh pas mau mau masuk gate perlu lepas sepatu. Terus terang gw ga pernah mengalami ini siyy, jd heran aja. Habis itu naik ke pesawat deh.

Anak2 begitu hepi krn bisa naik pesawat yg menyediakan entertainment. Selama ini kan selalu naik budget airline. Kesian bgt yaah. Akibat ibunya terlalu ngirit sih. Wkwkwkwkwkwkw... Inilah wajah2 bahagia di pesawat.


Inilah pengeluaran kami di penghujung liburan kami.

Sarapan RM21,2
Oleh2 RM250
Grab ke KLIA RM115
Bagasi RM184
Lunch RM64
Grab ke rumah Rp250rb

Setelah ditotal, pengeluaran kami utk liburan ke Malaysia ini mirip2 sama pas ke Singapura. Thanks to kesalahan booking dan mendadak beli bagasi. Hahahahaha. Memang yah, jd orang ga boleh terlalu perhitungan. Akhirnya malah rugi bandar. Btw, ketika baru sampai di rumah, Mas Rama dan Mas Dewa langsung nanya, "Habis ini kita liburan ke mana lagi Bu?" Wkwkwkwkwkwkw... pening kepala ibunya krn tabungan mengering pasca liburan.

-the wife-





Wednesday, January 15, 2020

We're off to Johor & KL (Part 8)

Di hari ke 7 trip kami ke Malaysia, ga ada agenda yg gw rencanakan dengan fix. Dulu2 pengennya berkunjung ke kampus gw tercinta, Universiti Malaya, dan walking down the memory lane ke tempat2 yang dulu sering gw datangi saat jadi mahasiswa, kyk mal Midvalley, stasiun KL Sentral, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, tukang bakso di Chowkit, dan tentu aja gedung kost2an gw. Tapi namanya jalan sama anak2, maka ga bisa ada agenda2 macam itu yg dipaksakan. Gw mungkin aja hepi berkunjung ke tempat2 itu sambil mengenang romansa masa muda (ceilaaaa...), tp anak2? Yg ada mereka malah nanya2, ngapain kita ke sini Bu? Hahahaha....

Pagi2 gw dan si bapak turun untuk cari sarapan. Saat kemarin berangkat ke Sunway Lagoon, gw perhatikan di deket apartemen kami ada banyak bgt tukang nasi lemak kaki lima di pagi hari. Ya udah, jd kami juga pengen sarapan nasi lemak. Alhamdulillah dapat yg rasanya mantaaaap dengan harga yg murah. Kami sarapan juga ditemani teh tarik hangat yg kami pesan di kedai India di deket tukang nasi lemaknya. Utk anak2 kami bungkus aja nasinya.

Setelah sarapan, gw dan paksu ngiter2 sebentar di seputaran mal Pavilion dan jalan bukit bintang. Dari situ akhirnya direncanakan bahwa hari itu kami akan ke KLCC untuk foto2 di depan menara kembar, sholat jumat, dan main di KLCC park. Kami akan kesana dengan jalan kaki melalui lorong yg tembus dari Pavilion ke Suria KLCC. Jaraknya kurang lebih 1km. Kalau naik grab kyknya keterlaluan dekatnya. Sebelum balik ke apartemen, gw sempet beli jambu bangkok dulu di Jalan Alor.

Begitu sampe apartemen, anak2 udah bangun dan lg asyik main HP. Kami minta mereka sarapan dan langsung mandi krn saat itu udah jam 10.30. Krn dzuhur di KL itu kira2 jam 1 an, maka kami akan jalan dr apartemen sekitar jam 12 agar bisa sampai di KLCC tepat waktu utk sholat jumat. Nah, saat itu bapaknya anak2 browsing mengenai tempat2 wisata di KLCC. Selain playground dan tempat main air di KLCC park, ternyata ada juga Petrosains Discovery Center. Setelah kami lihat review2nya, sepertinya itu mirip2 sama art science museum Singapur dan museum IPTEK di TMII. Harga tiketnya juga ga terlalu mahal. Kalau dari websitenya, tiket dewasa adalah 28 ringgit dan anak2 16 ringgit. Oke deh, berarti kami akan seharian bgt di KLCC. Bye2 rencana ke kampus. Hahahahahaha...

Sesuai perkiraan, kami berangkat tepat pukul 12. Ketika jalan kesana anak2 mengeluh krn jauh. Wkwkwkwkwkw. Itu memang bagaikan lorong tak berujung. Apalagi selama di Malaysia selalu naik grab, sehingga praktis hampir ga pernah jalan jauh seperti saat di Singapura. Betari paling asyik krn cuman duduk manis di stroller. Dia pun tidur saat kami tiba di Suria KLCC. Jadi pas foto di depan menara kembar ya lg tedooor.


Mas2 pun dibawa bapaknya ke mesjid terdekat untuk sholat jumat. Sementara itu, Betari dan ibuk muter2 mal tanpa hasrat belanja. Tp akhirnya gw putuskan beli roti dan donat di Cold Storage. Setelah itu kami nunggu di atrium aja sambil makan donat.


Setelah mas2 dan bapak selesai sholat jumat, kami ke Petrosains. Ternyata ada family package untuk pembelian tiketnya. Beli tiket 2 dewasa gratis tiket untuk 2 anak. Jadi kami cuma bayar tiket untuk 2 dewasa dan tambahan 1 anak. Lumayan bgt lhoo. Ini lbh murah jg dr offeringnya Traveloka. Jalan utk masuk ke pameran2 sainsnya wow bgt. Kami dibawa masuk naik kereta yg didesain kyk telur dinosaurus gitu. Satu telur kapasitasnya utk 6 orng. Setelah itu benar2 kyk di pameran IPTEK. Anak2 ga bosan sama sekali. Malah ibunya yg cranky krn kelaparan dan kedinginan. Hahahahaha. Habisnya sok2 sarapan cm setengah porsi. Ini foto2 selama disana. Highly recommended deh pokoknya.


Kami masuk ke Petrosains sekitar jam 2 dan keluar di jam 5 lebih sedikit. Setelah itu kami makan siang yg super terlambat di McD. Habis itu pulang deh. Sebenernya si bapak msh mau ajak ke KLCC park. Apalagi kami udah bawa baju renang dan handuk seandainya anak2 mau main air. Tapi krn udah terlalu sore, gw ga setuju. Semua jg udah keliatan lelah bgt. Oh iya, gw sempat mampir ke Guardian utk mborong lotion yg kemarin itu dan beliin hansaplast utk kaki Mas Rama yg kena blister. Amazing bgt krn lotion yg dimaksud lg diskon. Kalau di Johor kmrn gw beli dengan harga 5.9 ringgit, di KL gw dapat dengan harga 4.7 ringgit. Yeaayy.


Setelah istirahat di apartemen sebentar, paksu ngajak gw utk makan duren. Kepengen bgt dia. Hahahaha. Anak2 milih ditinggal di apartemen sambil main HP. Kesian jg sih pasti pada cape jalan. Klo ikut maka hrs jalan lagi sekitar 650m. Jd ya udah, bapak dan ibunya pacaran deeh. Hehehehe...

Kami makan duren di BB Park. Kata si bapak, tempat ini memang cukup terkenal. Dulunya toko ini cuma ada di perkebunan semacam Warso Farm. Lalu akhirnya buka toko di dekat Bukit Bintang. Tempatnya super bersih dan yg jual jg ramah bgt. Kami beli duren yg tipe D12 (klo ga salah) dan MUSANG KING!!!! Asliiiiii enak bgt. Duren D12 nya manis, dagingnya juga legit, dan creamy gitu rasanya. Sementara Musang King aduhaaaai enaknya. Semua rasa dari duren top kyknya ada di si Musang King itu; manis, pahit, buttery, legit. Duh duhhhh... Amazingly, harganya jg ga terlalu mahal. D12 per kilo dijual dengan harga 29 ringgit dan Musang King 45 ringgit per kilonya.


Foto yg di atas itu adalah penampakan Musang King. Penampilannya aja udah meyakinkan gitu, apalagi rasanya. Mantaaap. Seneng dan ga nyesel deh bela2in malam2 ke situ. Pengunjung lain yg kami lihat kyknya orng Indonesia semua. Hahahahaha. Saat kami pulang (sekitar jam setengah 10 malam), msh ada aja yg berdatangan. Kami beruntung krn Musang King yg kami makan adalah stok terakhir utk hr itu. Jd yg datang setelah kami udah ga kebagian. Alhamdulillah rejeki.

Ini adalah pengeluaran kami di hari ke 7 trip kami. Di Suria KLCC, kami ambil uang lagi 300 ringgit krn uang kami sudah menipis sementara di hari terakhir besok msh ada pengeluaran2 cukup besar yang perlu dibayar dengan cash seperti grab dan makan siang.

Sarapan RM16.2
Buah RM6
Roti dan donat RM10
Garret popcorn RM28
Lunch RM69
Durian RM115
Lotion dan hansaplast RM23

-the wife-